photo credits Lucie Žurmanová

Impresi artistik

Musisi asal Indonesia yang bermukim di Belanda, Alfian Emir Adytia aktif di dunia pertunjukan cello dan komposisi musik klasik maupun non-klasik. Memilik ketertarikan tanpa batas, Alfian terpesona dengan kompleksitas serialisme Boulez, mathrock Covet, kontrapung Bach dan di waktu yang sama kesederhanaan Haruka Nakamura, kejeniusan Bill Wurtz, pesona Brad Mehldau dan bisingnya Merzbow.

 

Alfian melukis beberapa pencapaian artistik seperti The Best Performance Prize di Zhang Jia Jie International Country Music Week 2013 (China), juara pertama di Composition Competition 50 Years of Blessings Avip Priatna 2016 (Jakarta), juara kedua di Asten Classic Award 2018 (Netherlands) dan juara pertama di Willem Twee Chamber Music Competition 2018 (Netherlands).

 

Sebagai cellist, Alfian tergabung di beberapa orkestra dan festival seperti Jakarta Simfonia Orchestra, Jakarta City Philharmonic, Hong Kong New Music Ensemble, New European Ensemble, Dordrechts Kamerorkest, Amsterdam Cello Biennale, Jazz in de Gracht, Tong Tong Fair, Gaudeamus Muziekweek dan International Cello Festival Zutphen. Beberapa proyek yang sedang berjalan saat ini antara lain adalah set solo cellonya, cello dan piano duo Portal Musik, cello duo Achterom, kuartet gesek tidak konvensional Hodiernal Quartet, ansambel pierrot Orochi dan ansambel gesek Savoix. Alfian saat ini bermain instrumen buatan oleh Radrizzani di Milan 1870, dimainkan sebelumnya oleh Jeroen Bool, milik Luc Bool.

 

Sebagai komponis, Alfian tanpa henti mencari suara dan warna. Dengan pengetahuannya di musik klasik, Alfian saat ini mendalami sisi musik elektronik dalam mencari kemungkinan-kemungkinan harmoni antara kedua dunia ini. Beberapa institusi dan individu yang mengkomisikan Alfian untuk berkarya antara lain adalah  Jakarta City Philharmonic, Jakarta Concert Orchestra, Kompas Gramedia, Zutphen Cello Academy, NXT Nederlands Kamerkoor, Angelica Liviana (pianis), Bagaskoro Byar Sumirat (obois) dan Cody Takacs (double bassis). Karyanya telah dimainkan di Asia Tenggara, Asia Timur, Belanda, Prancis dan Amerika Serikat.

Impresi akademik

Ketertarikan Alfian di dunia musik pertama kali adalah gitar di tahun 2001 (usia 9) ketika sepupunya menunjukkan kepadanya permainan gitar. Ketertarikan ini berkembang dan kemudian mulai belajar tentang teori musik dan komposisi dengan ayahnya, Yoesbar Djaelani pada sekitar tahun 2002 (usia 10). Tiga tahun kemudian, Alfian mulai belajar cello dengan ayahnya.

 

Pada tahun 2008, Alfian melanjutkan studi musik di Sekolah Menengah Musik Yogyakarta dan melanjutkan studi dengan Brigida Berta. Pada tahun 2011, Alfian melanjutkan studi S1 di Institut Seni Indonesia Yogyakarta dan belajar dengan Budi Ngurah dan Asep Hidayat. Perkembangan cellonya pada saat itu juga dibantu oleh guru-guru lainnya da kelas-kelas master oleh Caroline Kang, Marcin Szawelski, Stefanie Waegner dan Matthias Diener. Pada periode ini, Alfian mendapatkan beasiswa pembelajaran oleh Tembi Rumah Budaya.

 

Pada tahun 2017, Alfian melanjutkan studi S2 di Koninklijk Conservatorium Den Haag, Belanda. Belajar dibawah guru utamanya, Larissa Groeneveld, perkembangan Alfian juga menjadi pesat karena bimbingan oleh input-input lainnya oleh Maarten Mostert, Jeroen Den Herder, Roger Regter, Tim Kliphuis, Gavriel Lipkind dan Ran Varon. Alfian juga belajar komposisi pada periode ini dengan Martijn Padding.

 

Ketika studi S2-nya (2017-2019), Alfian dianugerahi beasiswa Holland Scholarship untuk tahun pertama dan Fund for Excellence of the Royal Conservatoire untuk tahun kedua.